Pernahkah kamu tanpa sadar menarik atau menekuk jari hingga terdengar bunyi "krek"?
Bagi sebagian orang, kebiasaan ini terasa memuaskan. Bahkan ada yang mengaku merasa lebih lega atau rileks setelah membunyikan jari. Namun, tidak sedikit pula yang langsung mendapat peringatan dari orang tua atau orang di sekitarnya.
"Jangan sering membunyikan jari, nanti kena rematik."
"Nanti sendinya rusak."
"Lama-lama jarinya jadi besar."
Nasihat seperti ini sudah lama beredar di masyarakat. Akibatnya, banyak orang menjadi ragu apakah kebiasaan membunyikan jari memang berbahaya atau hanya sekadar mitos.
Lalu, sebenarnya dari mana asal bunyi "krek" tersebut? Apakah benar kebiasaan ini dapat menyebabkan radang sendi atau rematik?
Kabar baiknya, berdasarkan penelitian yang ada hingga saat ini, belum ditemukan bukti kuat bahwa membunyikan jari sesekali dapat menyebabkan rematik atau osteoarthritis pada orang yang sehat.
Namun, bukan berarti semua bunyi pada sendi selalu normal. Ada kondisi tertentu yang memang perlu diperhatikan, terutama jika bunyi tersebut disertai nyeri, bengkak, atau gangguan gerak.
Dari Mana Asalnya Bunyi "Krek" Saat Jari Dibunyikan?
Banyak orang mengira bunyi tersebut berasal dari tulang yang saling bergesekan.
Padahal, kenyataannya bukan demikian.
Setiap sendi di dalam tubuh dilapisi oleh cairan sinovial, yaitu cairan yang berfungsi sebagai pelumas alami. Cairan ini membantu sendi bergerak dengan lebih halus sekaligus mengurangi gesekan antarpermukaan tulang.
Di dalam cairan sinovial terdapat gas-gas yang larut, seperti oksigen, nitrogen, dan karbon dioksida.
Ketika kita menarik, menekuk, atau memutar jari hingga melebihi rentang gerak biasanya, tekanan di dalam sendi berubah secara tiba-tiba. Perubahan tekanan ini menyebabkan terbentuknya gelembung gas di dalam cairan sinovial.
Proses terbentuknya gelembung gas inilah yang dikenal sebagai cavitation.
Menurut penelitian menggunakan pencitraan MRI secara langsung, bunyi "krek" yang kita dengar kemungkinan besar muncul saat gelembung gas tersebut terbentuk, bukan karena tulang saling berbenturan.
Jadi, bunyi yang terdengar bukanlah tanda tulang retak ataupun sendi bergeser dari tempatnya.
Mengapa Setelah Dibunyikan Tidak Bisa Langsung Berbunyi Lagi?
Pernah mencoba membunyikan jari dua kali berturut-turut?
Biasanya, setelah bunyi pertama muncul, jari tidak akan langsung berbunyi lagi meskipun ditarik dengan cara yang sama.
Hal ini terjadi karena gelembung gas yang baru terbentuk membutuhkan waktu untuk kembali larut ke dalam cairan sinovial.
Proses tersebut umumnya memerlukan waktu sekitar 15 hingga 30 menit, meskipun dapat berbeda pada setiap orang.
Setelah gas kembali larut, sendi dapat menghasilkan bunyi yang sama ketika ditarik kembali.
Fenomena inilah yang menjelaskan mengapa satu sendi tidak bisa terus-menerus mengeluarkan bunyi setiap kali digerakkan.
Kenapa Ada Orang yang Suka Membunyikan Jarinya?
Meskipun terdengar aneh bagi sebagian orang, kebiasaan ini ternyata cukup umum.
Beberapa orang mengatakan bahwa setelah jari dibunyikan, tangan terasa lebih ringan, lebih nyaman, atau tidak sekaku sebelumnya.
Menurut para ahli, sensasi tersebut kemungkinan berasal dari perubahan tekanan di dalam sendi setelah proses cavitation terjadi. Selain itu, gerakan menarik atau meregangkan jari juga membuat jaringan di sekitar sendi ikut meregang sehingga memberikan rasa lega untuk sementara waktu.
Namun, perlu diketahui bahwa rasa lega ini bukan berarti sendi sebelumnya berada dalam posisi yang salah atau "masuk angin", melainkan lebih merupakan sensasi yang dirasakan tubuh setelah sendi dan jaringan di sekitarnya bergerak.
Karena itu, sebagian orang menjadikan membunyikan jari sebagai kebiasaan, terutama saat sedang belajar, bekerja, atau merasa tegang.
Benarkah Membunyikan Jari Menyebabkan Rematik?
Inilah mitos yang paling sering beredar.
Sampai saat ini, belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa kebiasaan membunyikan jari menyebabkan rematik maupun osteoarthritis pada orang yang sehat.
Salah satu penelitian yang cukup terkenal bahkan dilakukan oleh seorang dokter yang selama puluhan tahun hanya membunyikan jari pada satu tangan, sementara tangan lainnya tidak pernah dibunyikan. Setelah bertahun-tahun diamati, tidak ditemukan perbedaan bermakna mengenai kejadian radang sendi pada kedua tangannya.
Selain itu, beberapa penelitian lain juga tidak menemukan hubungan yang konsisten antara kebiasaan membunyikan jari dan meningkatnya risiko osteoarthritis.
Artinya, jika dilakukan sesekali dan tanpa menimbulkan rasa sakit, kebiasaan ini umumnya tidak terbukti menyebabkan kerusakan sendi.
Namun, bukan berarti jari boleh dibunyikan secara berlebihan atau dipaksa hingga terasa nyeri.
Apakah Terlalu Sering Membunyikan Jari Tetap Aman?
Meskipun penelitian hingga saat ini belum menunjukkan bahwa membunyikan jari menyebabkan rematik, bukan berarti kebiasaan ini boleh dilakukan secara berlebihan tanpa memperhatikan kondisi tubuh.
Pada sebagian orang, membunyikan jari sesekali mungkin tidak menimbulkan masalah. Namun, jika dilakukan terlalu sering atau dengan gerakan yang dipaksakan hingga terasa nyeri, jaringan di sekitar sendi seperti ligamen, kapsul sendi, atau tendon berisiko mengalami iritasi.
Beberapa penelitian juga menemukan bahwa orang yang memiliki kebiasaan membunyikan jari sangat sering mungkin mengalami sedikit penurunan kekuatan genggaman tangan. Meski hasil penelitian mengenai hal ini masih belum konsisten dan memerlukan kajian lebih lanjut, kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa setiap kebiasaan yang dilakukan secara berlebihan tetap berpotensi memberikan dampak pada tubuh.
Karena itu, jika jari terasa sakit setiap kali dibunyikan, sebaiknya hentikan kebiasaan tersebut dan biarkan sendi beristirahat.
Bagaimana dengan Bunyi pada Sendi Lain?
Tidak hanya jari tangan, bunyi "krek" juga dapat muncul pada lutut, bahu, leher, pergelangan kaki, hingga punggung.
Penyebabnya tidak selalu sama.
Pada beberapa sendi, bunyi dapat berasal dari proses pembentukan gelembung gas seperti pada jari. Namun pada kondisi lain, bunyi bisa muncul akibat tendon atau ligamen yang bergeser saat melewati tonjolan tulang, terutama ketika sendi digerakkan setelah lama berada dalam posisi yang sama.
Selama bunyi tersebut tidak disertai rasa nyeri, bengkak, atau keterbatasan gerak, umumnya kondisi ini masih dianggap normal.
Sebaliknya, jika bunyi sendi muncul bersamaan dengan nyeri yang menetap atau sendi terasa tidak stabil, sebaiknya jangan diabaikan karena bisa menjadi tanda adanya cedera atau gangguan pada sendi.
Kapan Bunyi "Krek" Perlu Diwaspadai?
Sebagian besar bunyi pada sendi memang tidak berbahaya. Namun, ada beberapa kondisi yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila bunyi sendi disertai:
- Nyeri yang tidak kunjung membaik.
- Bengkak pada sendi.
- Kemerahan atau terasa hangat saat disentuh.
- Sendi sulit digerakkan atau terasa terkunci.
- Riwayat cedera sebelum bunyi muncul.
- Bunyi disertai kelemahan atau mati rasa pada tangan.
Gejala-gejala tersebut dapat mengarah pada kondisi seperti cedera ligamen, robekan tulang rawan, peradangan sendi, atau gangguan lain yang membutuhkan penanganan medis.
Bagaimana Cara Menjaga Kesehatan Sendi?
Menjaga kesehatan sendi tidak hanya penting bagi orang lanjut usia, tetapi juga bagi remaja dan orang dewasa yang aktif beraktivitas setiap hari.
Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain:
1. Rutin Bergerak dan Berolahraga
Aktivitas fisik membantu menjaga kelenturan sendi serta memperkuat otot yang menopangnya. Pilih olahraga yang sesuai dengan kemampuan tubuh, seperti berjalan kaki, berenang, atau bersepeda.
2. Hindari Gerakan yang Dipaksakan
Jika ingin meregangkan jari atau sendi, lakukan secara perlahan. Hindari menarik sendi terlalu kuat hingga terasa nyeri.
3. Pertahankan Berat Badan Ideal
Berat badan yang berlebih memberikan tekanan lebih besar pada sendi, terutama lutut, pinggul, dan pergelangan kaki.
4. Konsumsi Makanan Bergizi
Asupan protein, kalsium, vitamin D, dan berbagai zat gizi lainnya berperan dalam menjaga kesehatan tulang dan jaringan di sekitar sendi.
5. Dengarkan Sinyal Tubuh
Jika suatu gerakan menimbulkan rasa sakit, jangan memaksakan diri. Nyeri merupakan salah satu cara tubuh memberi tahu bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan.
Jadi, Bolehkah Membunyikan Jari?
Jawabannya adalah boleh, selama tidak dilakukan secara berlebihan dan tidak menimbulkan rasa sakit.
Bunyi "krek" yang muncul saat membunyikan jari umumnya berasal dari perubahan tekanan dan pembentukan gelembung gas di dalam cairan sinovial, bukan karena tulang saling bergesekan atau patah.
Hingga saat ini, penelitian juga belum menemukan bukti kuat bahwa kebiasaan membunyikan jari dapat menyebabkan rematik atau osteoarthritis pada orang yang sehat.
Meski demikian, tetap bijak dalam melakukannya. Jika kebiasaan tersebut mulai menyebabkan nyeri atau mengganggu aktivitas, sebaiknya hentikan dan konsultasikan dengan tenaga kesehatan bila diperlukan.
Membunyikan jari merupakan kebiasaan yang sering dilakukan banyak orang, baik secara sengaja maupun tanpa disadari. Meskipun sudah lama dikaitkan dengan berbagai mitos, seperti menyebabkan rematik atau kerusakan sendi, bukti ilmiah yang ada hingga saat ini tidak mendukung anggapan tersebut.
Bunyi "krek" yang terdengar umumnya berasal dari perubahan tekanan di dalam sendi dan pembentukan gelembung gas pada cairan sinovial, bukan karena tulang saling bergesekan.
Namun, penting untuk memahami bahwa tidak semua bunyi sendi bersifat normal. Jika bunyi disertai nyeri, pembengkakan, atau keterbatasan gerak, kondisi tersebut perlu diperiksakan agar penyebabnya dapat diketahui lebih lanjut.
Memahami fakta di balik kebiasaan sehari-hari seperti ini membantu kita membedakan mana informasi yang benar dan mana yang hanya sekadar mitos, sehingga keputusan yang diambil untuk menjaga kesehatan menjadi lebih tepat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar