Sedang fokus mengerjakan tugas, mengikuti rapat, atau sekadar scrolling media sosial, tiba-tiba kelopak mata terasa bergerak sendiri selama beberapa detik. Sensasinya memang tidak terlalu sakit, tetapi cukup mengganggu, apalagi jika muncul berulang kali sepanjang hari.
Banyak orang langsung mengaitkannya dengan kurang tidur. Ada juga yang percaya bahwa mata berkedut merupakan pertanda akan datangnya suatu kejadian tertentu. Di Indonesia sendiri, masih banyak mitos yang menghubungkan kedutan pada mata kanan atau mata kiri dengan rezeki, kabar baik, atau bahkan musibah.
Namun, apa sebenarnya yang dikatakan dunia medis mengenai mata berkedut? Benarkah penyebabnya selalu karena kurang tidur?
Kabar baiknya, sebagian besar kedutan pada kelopak mata bukan merupakan kondisi yang berbahaya. Dalam istilah medis, kondisi ini dikenal sebagai eyelid myokymia, yaitu kontraksi ringan pada otot kelopak mata yang terjadi secara tidak sadar. Kedutan biasanya hanya berlangsung beberapa detik atau menit, kemudian menghilang dengan sendirinya. Pada sebagian orang, kedutan dapat muncul berulang selama beberapa hari sebelum akhirnya berhenti.
Meskipun umumnya tidak berbahaya, kedutan bisa menjadi tanda bahwa tubuh sedang membutuhkan istirahat atau sedang terpapar faktor tertentu yang memicu otot kelopak mata menjadi lebih sensitif.
Lalu, apa saja penyebabnya?
1. Kurang Tidur Memang Bisa Menjadi Penyebab, tetapi Bukan Satu-Satunya
Jika akhir-akhir ini kamu sering begadang karena mengerjakan tugas, lembur, atau terlalu lama bermain ponsel, jangan heran jika mata mulai sering berkedut.
Kurang tidur merupakan salah satu penyebab yang paling sering dikaitkan dengan eyelid myokymia. Ketika tubuh tidak mendapatkan waktu istirahat yang cukup, sistem saraf dan otot menjadi lebih mudah mengalami rangsangan. Akibatnya, otot-otot kecil pada kelopak mata dapat berkontraksi secara spontan tanpa kita sadari.
Meskipun mekanismenya belum sepenuhnya dipahami, para ahli menduga bahwa kelelahan akibat kurang tidur membuat sistem saraf menjadi lebih sensitif sehingga kedutan lebih mudah muncul.
Namun, penting dipahami bahwa tidak semua orang yang mengalami mata berkedut berarti sedang kurang tidur. Masih ada beberapa faktor lain yang juga berperan.
2. Stres Ternyata Sering Menjadi Pemicunya
Pernah menyadari bahwa mata berkedut justru muncul ketika sedang banyak pikiran?
Misalnya saat menghadapi ujian, mengejar deadline, atau sedang memiliki masalah pribadi.
Hal tersebut bukan kebetulan.
Saat seseorang mengalami stres, tubuh melepaskan hormon seperti kortisol dan adrenalin yang membantu kita tetap waspada. Dalam jangka pendek, respons ini memang bermanfaat. Namun, jika stres berlangsung terus-menerus, otot dan sistem saraf dapat menjadi lebih tegang sehingga memicu kontraksi kecil pada kelopak mata.
Inilah mengapa sebagian orang baru menyadari mata mereka berkedut ketika sedang berada dalam masa-masa yang melelahkan secara mental.
Sering kali, setelah tingkat stres berkurang dan tubuh mendapatkan waktu istirahat yang cukup, kedutan juga akan menghilang dengan sendirinya.
3. Terlalu Banyak Minum Kopi atau Minuman Berkafein
Bagi banyak mahasiswa dan pekerja, kopi sudah menjadi teman setia untuk tetap terjaga.
Satu cangkir saat pagi mungkin tidak menjadi masalah. Namun, jika dalam sehari seseorang mengonsumsi beberapa cangkir kopi, teh berkafein, atau minuman berenergi, efeknya dapat dirasakan oleh sistem saraf.
Kafein bekerja sebagai stimulan. Artinya, zat ini membuat otak dan tubuh menjadi lebih waspada. Pada sebagian orang yang sensitif terhadap kafein, efek tersebut juga dapat meningkatkan aktivitas otot sehingga kelopak mata menjadi lebih mudah berkedut.
Hal ini bukan berarti semua orang harus berhenti minum kopi.
Namun, jika mata sering berkedut dan kamu menyadari konsumsi kafein sedang meningkat, tidak ada salahnya mencoba mengurangi jumlahnya selama beberapa hari untuk melihat apakah keluhan membaik.
4. Mata Terlalu Lelah karena Terus Menatap Layar
Coba ingat kembali berapa lama waktu yang kamu habiskan di depan layar setiap hari.
Belajar melalui laptop, membalas pesan di ponsel, menghadiri rapat daring, lalu malam harinya masih menonton film atau scrolling media sosial.
Tanpa disadari, mata bekerja hampir tanpa jeda.
Menatap layar dalam waktu lama dapat menyebabkan digital eye strain, yaitu kondisi ketika mata menjadi lelah akibat penggunaan perangkat digital secara terus-menerus. Salah satu gejalanya adalah mata terasa pegal, kering, penglihatan sedikit kabur, hingga muncul kedutan pada kelopak mata.
Selain karena otot mata bekerja lebih keras, saat menatap layar kita juga cenderung berkedip lebih sedikit dibanding biasanya. Akibatnya, permukaan mata menjadi lebih kering dan mudah mengalami iritasi.
Untuk membantu mengurangi kelelahan mata, beberapa ahli menyarankan menerapkan aturan 20-20-20, yaitu setiap 20 menit melihat layar, alihkan pandangan ke objek yang berjarak sekitar 20 kaki (sekitar 6 meter) selama 20 detik.
Meskipun sederhana, kebiasaan ini dapat membantu mengurangi ketegangan pada mata, terutama bagi mereka yang bekerja atau belajar menggunakan komputer dalam waktu lama.
5. Mata Kering Juga Bisa Menjadi Penyebab
Selain kurang tidur atau stres, ada satu penyebab yang sering tidak disadari, yaitu mata kering.
Normalnya, mata selalu dilapisi oleh air mata yang berfungsi menjaga permukaan mata tetap lembap, bersih, dan nyaman. Namun, ketika produksi air mata berkurang atau air mata lebih cepat menguap, permukaan mata menjadi lebih mudah mengalami iritasi.
Akibatnya, mata bisa terasa perih, seperti berpasir, mudah lelah, dan pada sebagian orang disertai kedutan pada kelopak mata.
Kondisi ini lebih sering dialami oleh orang yang bekerja di depan komputer dalam waktu lama, berada di ruangan ber-AC sepanjang hari, menggunakan lensa kontak, atau berusia lebih lanjut. Menatap layar terlalu lama juga membuat frekuensi berkedip berkurang sehingga mata menjadi lebih cepat kering.
Jika penyebabnya adalah mata kering, penggunaan tetes mata pelumas (artificial tears) sesuai anjuran tenaga kesehatan dapat membantu meredakan keluhan.
6. Benarkah Kekurangan Vitamin Menyebabkan Mata Berkedut?
Mungkin kamu pernah mendengar anggapan bahwa mata berkedut pasti disebabkan oleh kekurangan vitamin atau magnesium.
Faktanya, hubungan tersebut belum sekuat yang sering dipercaya masyarakat.
Beberapa penelitian memang menemukan bahwa kekurangan mineral tertentu, seperti magnesium, dapat memengaruhi fungsi otot dan saraf. Namun, hingga saat ini belum ada bukti yang cukup kuat bahwa sebagian besar kasus kedutan pada kelopak mata disebabkan oleh kekurangan magnesium pada orang yang sehat.
Karena itu, jika mata berkedut sesekali, tidak perlu terburu-buru membeli suplemen.
Yang lebih penting adalah memperbaiki kebiasaan sehari-hari, seperti tidur yang cukup, mengelola stres, mengurangi konsumsi kafein bila berlebihan, serta memberikan waktu istirahat pada mata.
Jika memang dicurigai terdapat kekurangan zat gizi tertentu, pemeriksaan oleh tenaga kesehatan akan lebih membantu dibanding mengonsumsi suplemen secara sembarangan.
Bagaimana dengan Mitos Mata Berkedut?
Di Indonesia, mata berkedut sering dikaitkan dengan berbagai kepercayaan yang sudah diwariskan sejak lama.
Ada yang mengatakan kedutan pada mata kanan berarti akan mendapatkan kabar baik. Ada pula yang percaya kedutan pada mata kiri menandakan akan datangnya kesialan atau sebaliknya, tergantung daerah dan budaya masing-masing.
Kepercayaan seperti ini merupakan bagian dari tradisi yang berkembang di masyarakat dan tentu memiliki nilai budaya tersendiri.
Namun, hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa lokasi kedutan pada mata dapat memprediksi suatu peristiwa di masa depan.
Dari sudut pandang medis, kedutan lebih sering berkaitan dengan aktivitas otot dan saraf pada kelopak mata dibandingkan dengan pertanda tertentu.
Kapan Mata Berkedut Perlu Diperiksakan ke Dokter?
Sebagian besar kedutan pada kelopak mata akan membaik dengan sendirinya dalam beberapa hari.
Namun, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter apabila mengalami kondisi berikut:
- Kedutan berlangsung terus-menerus selama beberapa minggu tanpa membaik.
- Kedutan semakin sering atau semakin kuat.
- Seluruh wajah ikut bergerak atau mengalami kejang.
- Kelopak mata sulit dibuka atau justru menutup sendiri.
- Mata tampak merah, bengkak, keluar cairan, atau terasa sangat nyeri.
- Kedutan disertai gangguan penglihatan.
Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan apakah terdapat gangguan lain yang memerlukan penanganan khusus, seperti blepharospasm, gangguan saraf tertentu, atau masalah pada mata.
Untungnya, kondisi-kondisi tersebut jauh lebih jarang dibandingkan eyelid myokymia, yang umumnya bersifat ringan dan dapat membaik sendiri.
Apa yang Bisa Dilakukan agar Mata Tidak Mudah Berkedut?
Meskipun tidak selalu dapat dicegah, beberapa kebiasaan berikut dapat membantu mengurangi frekuensi kedutan pada mata:
Tidur yang cukup
Usahakan memenuhi kebutuhan tidur sekitar 7–9 jam setiap malam sesuai anjuran untuk orang dewasa. Tidur yang cukup membantu otot dan sistem saraf berfungsi dengan lebih baik.
Kelola stres
Setiap orang memiliki cara yang berbeda untuk mengurangi stres. Berjalan santai, berolahraga ringan, membaca buku, mendengarkan musik, atau meluangkan waktu untuk beristirahat dapat membantu tubuh menjadi lebih rileks.
Batasi konsumsi kafein bila berlebihan
Jika dalam beberapa hari terakhir konsumsi kopi atau minuman berenergi meningkat dan mata mulai sering berkedut, cobalah mengurangi jumlahnya secara bertahap.
Istirahatkan mata secara berkala
Bagi yang bekerja di depan layar, terapkan aturan 20-20-20. Selain itu, jangan lupa berkedip secara alami agar permukaan mata tetap lembap.
Jaga kelembapan mata
Jika sering berada di ruangan ber-AC atau memiliki mata kering, konsultasikan kepada tenaga kesehatan mengenai penggunaan tetes mata pelumas yang sesuai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar